KISAH KHALIFAH UMAR, KHALIFAH HARUN AL RASYID DAN BAJINGAN TOLOL

6 Min Read

Oleh: Tim Kajian API (Advokat Persaudaraan Islam)

Jakarta, Visioneernews.id – Semakin tinggi peradaban sebuah bangsa, maka akan semakin rendah tingkat premanisme politik, penyalahgunaan kekuasaan, kebohongan publik, perilaku jilat-menjilat, dan kriminalisasi oposan, kritikus atau pihak yang bersebrangan dengan penguasa.

Kita semua pasti sudah pernah mengetahui bahwasanya, khalifah Umar Bin Khattab radiallahu anhu adalah salah satu sosok yang patut dijadikan contoh dalam merespon kritik atau bahkan bisa disebut perilaku kasar dari pihak yang mengkritik.

Dalam literasi Islam, kita menyaksikan bagaimana khalifah Umar Bin Khattab radiallahu anhu, pada saat pidato pertama ketika menjadi khalifah, beliau menyatakan; “Wahai manusia, siapa pun di antara kalian yang melihat kebengkokan dalam diriku (dalam hal karakter, keputusan, dan sikap), maka biarkan dia meluruskan kebengkokan itu.”

Jelas kalimat khalifah Umar Bin Khattab radiallahu anhu ini adalah ditujukan kepada aparat dan pendukungnya, agar tidak melakukan tindakan apapun terhadap para pengriktiknya.

Lalu ada seorang yang hadir dalam peristiwa pidato tersebut berdiri tegak dan menyatakan, “Demi Allah, seandainya kami melihat kebengkokan itu ada padamu, kami akan meluruskannya dengan pedang kami.”

Bisa kita bayangkan bagaimana seorang kepala negara, kepala pemerintahan, di depan umum dan di depan hidungnya, ada rakyat yang menggunakan diksi “pedang” untuk mengoreksi penguasa yang sangat terkenal tegas dan berwibawa.

Lalu berikutnya, kita juga mengenal dalam literasi Islam, kisah khalifah Harun Al Rasyid yang juga dinasehati, atau tepatnya dikritik atau bisa jadi dihina sebagai orang gila dalam persepsi pihak tertentu.

Kisah khalifah Harun Al Rasyid ini kita cuplikan dialognya dengan rakyat yang mengkritiknya secara tajam.

Dalam Kitab Uqala al-Majànin (orang-orang gila yang bijak) diceritakan bahwa suatu ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid bertemu dengan Bahlul. Bahlul yang dianggap gila itu kebetulan sedang duduk merenung di atas kuburan.

Sang Khalifah pun mendekat dan mengawali pembicaraan dengan nada sedikit mengejek. “Hai Bahlul, hai orang gila, kapan kau sembuh dan bisa berfikir dengan benar?”

Seketika itu Bahlul langsung menjawab: “Hai Harun, hai orang gila, kapan kau sembuh dan bisa berfikir dengan benar?”

Kemudian Khalifah Harun pun mendekatinya, lalu ia berkata: “He, aku yang gila atau kamu yang gila?”

Bahlul balik bertanya, ”Aku atau engkau yang gila, wahai Khalifah?”

Khalifah menukas, “Kau yang setiap hari duduk di atas kuburan yang gila.”

Bahlul menjawab, “Aku yang waras!”

“Kenapa begitu?,” sergah Harun.

Bahlul menjawab, “Ya, karena aku tahu bahwa istana dan kekuasaanmu akan musnah. Dan tempat ini (menunjuk kuburan) akan abadi. Oleh karena itu, aku mempersiapkan diri untuk tinggal di sini. Sementara engkau justru menyibukkan diri dengan membangun istanamu yang kelak akan musnah. Kau terlihat begitu membenci kuburan padahal di situlah kelak tempat peristirahatanmu!”.

Mungkin Bahlul memperkirakan khalifah Harun Al Rasyid sedang berupaya memperpanjang jabatannya jadi 3 periode.

Bahlul melanjutkan, “Jika demikian, siapa di antara kita yang gila! wahai khalifah?”

Khalifah Harun diam sejenak tanpa mampu bicara sedikitpun. Lalu ia berkata kepada Bahlul sambil menangis terisak, “Demi Allah, benar sekali apa yang kau katakan, wahai Bahlul”.

Khalifah meminta nasehat dan petunjuk sang sufi ini. Ia berkata, “Nasehatilah aku, wahai Bahlul.”

“Cukuplah kau ikuti dan amalkan kitabullah.”

Khalifah melanjutkan, “Baiklah, apakah kau mengingingkan sesuatu dariku?”

Bahlul: “Ada tiga permintaanku kepadamu yang jika kau sanggup melakukannya aku akan berterima kasih sekali kepadamu!”

“Pertama, bisakah kau menambah atau memperpanjang usiaku?”

Khalifah menjawab, “Tentu aku tidak mungkin mampu melakukannya.”

“Kedua, mampukah kau menjagaku dari malaikat maut?”

“Tentu aku juga takkan mampu,” jawab khalifah.

“Ketiga, mampukah kau memasukkanku di surga dan menjauhkan diriku dari api neraka?”

“Juga tak mungkin mampu untuk aku lakukan,” jawab khalifah.

Bahlul kemudian berkata, “kalau begitu, aku tidak membutuhkan bantuanmu!”

Apakah para penjilat bajingan tolol mengira si bajingan tolol mampu memberikan apa yang diminta Bahlul terhadap diri para penjilat tersebut..?

Harun Ar-Rasyid Sang Khalifah yang paling berpengaruh dari sekian khalifah-khlalifah dinasti Abbasiyah itu ternyata sangat lembut dan terbuka terhadap nasehat seorang sufi yang dianggap gila oleh masyarakat.

Dan tidak ada satupun dari pendukung khalifah Umar Bin Khattab radiallahu anhu maupun khalifah Harun Al Rasyid, baik dari kalangan pendukung fanatik yang membabi buta maupun dari kalangan aparat negara kekhalifaan, yang mempersekusi atau mengkriminalisasi pihak yang mengingatkan dengan pedang atau Bahlul yang terang-terangan menyatakan Harun Al Rasyid gila.

Bisa kita bandingkan, apa yang terjadi pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab dan kekhalifahan Harun Al Rasyid, dengan era dan zaman para gerombolan bajingan tolol yang hari ini sibuk menjilat si bajingan tolol dengan cara mempersekusi dan bahkan mengkriminalisasi melalui penyalahgunaan instrumen hukum.

Terlihat sekali bahwa peradaban rendah yang saat ini sedang di praktekkan oleh bajingan tolol beserta para penyembahnya adalah merupakan bentuk-bentuk penyalahgunaan kekuasaan, karakter kampungan, menganggap negara ini adalah kerajaan absolut yang di anggap sebagai properti kelompok mereka.

Tindakan mempersekusi dan mengkriminalisasi seorang Rocky Gerung hanya karena mengkritik dengan diksi bajingan tolol bila dibandingkan dengan mengkritik dengan diksi pedang dan menyebut khalifah gila, adalah justru mempertontonkan kerendahan peradaban para gerombolan bajingan tolol tersebut.

Peradaban yang rendah, memang cenderung akan menyalahgunakan kekuasaan dan memobilisasi otot politik daripada menerima dengan lapang dada substansi kritik dari rakyat.

Jika kata-kata tak lagi bermakna dalam mengkritik, maka rakyat akan menggunakan batu bata untuk mengekspresikan aspirasinya.

Jakarta, salah satu pojok bumi Allah
Muharram, 1445 H bertepatan dengan bulan kemerdekaan.

Merdeka ‼️

Tim Kajian API (Advokat Persaudaraan Islam)

(Red/Dion)

Share This Article